Bismillaah Ar Rahmaan Ar Rahiim
Assalaamu’alaikum Wr, Wb.
Alhamdulillah. Masih dipinjamkan nikmat
oleh-Nya sehingga bisa berbagi di laman ini.
Politik ala Demokrasi, bagaimana sih?
Tidak sedikit orang yang bilang kalau politik itu sesuatu yang “kotor”.
Tapi wajar aja sih yang berkomentar demikian, karena kalau kita lihat kondisi
politik sekarang, jauh banget dari gambaran politik Islam yang In syaaAllah mau
kita bahas.
Dalam demokrasi seperti di negeri kita tercinta ini, tampaknya politik
hanya dijadikan sebagai jalan untuk meraih kursi kekuasaan demi kepentingan
individu, kelompok atau partainya, atau bisa juga kepentingan para pemilik
modal yang membiayai politisi gadungan, bukan sama sekali untuk kepentingan
ummat. Maka, jangan heran kalau kita melihat para politisi saling sikut, saling
jegal, bahkan saling serang hanya untuk berebut empuknya kursi kekuasaan. Karena
itu, dalam demokrasi tidak ada kawan yang abadi, atau musuh yang abadi, yang
ada hanyalah kepentingan yang abadi. Hmm x_x
Kok bisa gitu sih? Kenapa? Kondisi demikian terjadi karena sejatinya
demokrasi berdiri dengan landasan kedaulatan di tangan manusia. Artinya,
kewenangan dalam membuat aturan itu di tangan manusia. Bukan di tangan Allah,
Dzat yang menciptakan manusia dan alam semesta. Dengan 4 kebebasan yang diusung
yaitu, kebebasan berperilaku, beragama, berkepemilikkan, dan berpendapat,
aturan Allah sama sekali engga dikasih tempat untuk mengatur kehidupan ini. Makanya,
dalam demokrasi hukum dan aturan bisa diutak-atik sesuai kepentingan yang
berkuasa, juga orang-orang yang berduit. Jadilah kedaulatan berada di tangan
orang yang berduit, meskipun sering dikatakan berada di tangan rakyat. Ujung-ujungnya justru melahirkan kezholiman
dimana-mana. Hiksss T_T
Contoh nih, ketika beberapa waktu lalu, masyarakat berdemo menolak
kenaikan BBM karena akan berimbas kenaikan pada kebutuhan yang lain. Tapi para
politisi penguasa yang katanya wakil rakyat tetap ‘keukeuh’ menaikkan harga BBM
demi kepentingan segelintir orang bahkan asing. Kejam yaa…
Belum lagi kalau kita lihat, ingin jadi
caleg, syaratnya harus punya modal minimal ratusan juta hingga milyaran rupiah.
Apalagi buat jadi capres, bisa menembus angka triliyunan rupiah. Wow fantastis!
Tapi ngomong-ngomong, uangnya darimana? Mungkinkah uang mereka pribadi? Sudah
jadi rahasia umum kalau untuk mendapat modal kampanye itu mereka harus
‘kongkalikong’ dengan para pengusaha. Jadilah, ketika mereka berkuasa, kebijakan yang dilahirkan pun selalu
pro pengusaha.
Nah, sudah jelas kan, bagaimana gambaran politik ala demokrasi?
Sekarang, bagaimana dengan politik Islam? Politik Islam sangat jauh berbeda
dengan demokrasi. Karena Islam justru menempatkan kedaulatan hanya di tangan
Allah, bukan yang lain, sehingga hukum tidak bisa dimanipulasi, apalagi
diperjual-belikan.
So, saatnya kita para remaja muslim memainkan peran politik kita.
Caranya, jadilah remaja yang haus akan ilmu. Berbekal ilmu islam, kita akan
selalu punya pisau analisa terhadap permasalahan yang terjadi. Berusaha
memecahkan semua masalah dari masalah pribadi, masyarakat, dan bangsa ini
dengan aturan Sang Pencipta. Sampai akhirnya, dapat disimpulkan tidak ada lagi
yang mampu menyelesaikan semua permasalahan kecuali dengan menerpakan hukum
Allah secara menyeluruh.
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah
kalian semua ke dalam Islam secara keseluruhan…”(QS. Al Baqoroh:208)
Menurut tafsir ibnu Katsir, dalam ayat ini
Allah Swt memerintahkan hambaNya yang beriman kepadaNya dan RasulNya agar
mengambil seluruh pegangan Islam dan hukum-hukumNya, mengamalkan seluruh
perintah-perintahNya, dan meninggalkan seluruh larangan-laranganNya seoptimal
mungkin.
Wallahu a’alam bish shawaab.
Wassalaamu’alaikum Wr, Wb.
*sumber: Buletin Remaja Islam | Al Qur’an |
tafsir Ibnu Katsir 2:208






