(Loading...)

Ilmuwan Optik Muslim Terbaik Sepanjang Sejarah (part I)


Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

            Ilmuwan terkenal di bidang Optik pertama adalah seorang Muslim, belum tahu kan? mari kita simak :-) 
Sejarah Ibnu Al-Haytham
Abu Ali Muhammad al-Hassan ibnu al-Haytham Al-Basri, Al-Misri atau Ibnu Haytham, lahir di Basra, Irak pada tahun 965 M / 345 H. Dikenal di barat dengan nama Alhazen, Avenalan, Avenetan, atau Al-Hazen Al-Haytham. Ia adalah seorang ilmuwan Islam yang ahli dalam bidang sains, falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat. Ia adalah ahli fisika dan matematikawan terbaik pada abad XI. Selain itu Ia tercatat sebagai ahli Fisika muslim pertama.
Ibnu Haytham dibesarkan dalam keluarga yang akrab dengan dunia ilmu pengetahuan. Kecintaan pada ilmu pengetahuan membawanya hijrah ke Mesir untuk melanjutkan pendidikannya di Al-Azhar University. Haytham pernah membuat  mesin pengatur aliran sungai untuk mencegah banjir, setelah melakukan penelitian tentang aliran sungai Nil.
Sarjana yang cukup disegani di Timur maupun Barat, atas sumbangannya dalam ilmu Fisika sejak abad 11 sampai 20. Ahli sejarah di Harvard University, George Sarton (penulis A History of Science) menyebut al-Haytham sebagai The Greatest Muslim Physicist and One of The Greatest Student of Optics of All Times (Fisikawan Muslim terbesar dan salah seorang Ilmuwan Optik terbesar Sepanjang Zaman).
Menurut Natsir Arsyad (1989), melalui karya-karya optiknya terutama masterpiece-nya, Book of optics Al-Haytham telah mendasari dan mempengaruhi karya-karya optik Roger Bacon, Leonardo da Vinci, Witello, dan Johannes Kepler. Sebagai bukti, sebuah buku Dioptics yang ditulis Kepler yang diterbitkan pertama kali di Frankurt pada tahun 1604 didasarkan sepenuhnya pada karya Ibn al-Haytham. Will Durrant (1952) menyatakan bahwa tanpa al-Haytham tidak akan ada Roger Bacon dan Kepler.
Sumbangannya dalam Ilmu Pengetahuan
1.      - Teori Hukum Pembiasan
Hukum Pembiasan yaitu hukum fisik yang menyatakan bahwa sudut pembiasan dalam pancaran cahaya sama dengan sudut masuk menurut pandagan al-Haytham. Beliau berpendapat bahwa cahaya merah di kaki langit di waktu pagi (fajar) bermula ketika matahari berada di 19 derajat ufuk timur di bawah kaki langit. Sementara cahaya warna merah di kaki langit di waktu senja (syuruk) akan hilang apabila matahari berada 19 derajat ufuk barat di bawah kaki langit selepas jatuhnya matahari. Hukum ini dikenal dengan nama “Hukum Pembiasan Snell” kalau dibarat tokohnya Willebrord van Roijen Snell dari Belanda.
2.      -  Teori Penglihatan
Dalam teorinya ini Ibnu al-Haytham mengemukakan bahwa sinar cahaya berasal dari objek benda menuju ke retina mata sebagai tempat penglihatan, dan ia juga mengajukan tesis bahwa lensa bekerja seperti retina mata. Karena konsep ini juga al-Haytham mengalahkan teorinya Ptolemeus yang berabad-abad sebelumnya. Konsep ini menjadi landasan penelitian-penelitian selanjutnya tentang cermin, lensa, refraksi, kamera, fisiologi, dan penyakit mata.
3.      - Teori Cermin Cekung dan Cembung
Ibnu al-Hyatham menyimpulkan bahwa pada cermin parabola semua sinar dikonsentrasikan pada sebuah titik. Dan dari penemuannya ini al-Haytham menyebutkan bahwa cermin parabola merupakan cermin pembakar yang terbaik.
(untuk karya beliau dan sifat-sifat yang harus kita teladani, akan dilanjutkan di part 2) J
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuhu