(Loading...)

PANGGILAN KEMENANGAN


PANGGILAN KEMENANGAN




 Andaikata sholat boleh menggunakan bahasa masing-masing, bukankah akan lebih mudah dikerjakan? Mengapa mesti dengan bahasa Arab? Apakah Allah hanya mengerti bahasa Timur Tengah itu? Demikian tanda tanya ketidakpuasan mengental di hati sejumlah masyarakat yang gandrum kembali kepada tradisi nenek moyang.
            Alkisah, ada seorang nenek dari Jawa Tengah bertetangga dengan nenek yang berasal dari Cianjur. Kedua duanya sama-sama totok tidak mengerti bahasa lain. Pernah mereka terlibat dalam ketegangan meruncing akibat salah paham. Ceritanya, karena baik hati,melihat nenek Jawa Tengah kehabisan minyak tanah, si nenek Cianjur tanpa diminta mengantarkan sekaleng ke rumah tetangganya itu.
            Dengan menggunakan bahasa Sunda nenek itu bertanya, “ini minyak tanah, ditaruh di mana?”
            Meskipun samar-samar nenek Jawa itu tahu maksudnya sebab ada kata di mana, jadi ia menjawab,  “Dituang saja” dalam bahasa Jawa.
            Tentu saja nenek Cianjur itu marah, lantaran dituang artinya dimakan, menurut bahasa Sunda. Nenek Jawa itu disangka menghina dan mempermainkan pertolongan orang lain. Untung akhirnya masalah itu dapat diselesaikan oleh pamong desa setempat.
            Itu kejadian diluar masjid. Tetapi, begitu mereka bersama-sama hendak shalat jamah di masjid, persoalan bahsa tidak menjadi penghalang lagi karena baik yang Sunda maupun ynag Jawa sholat menggunakan bahasa yang sama, bahasa Al-Qur’an.
            Bayangkan, apabila imam dan makmum-makmumnya memakai bahasa masing-masing, bukankah wakyu membaca “aamiin” saja suasan shalat bisa gaduh? Orang Arab menjawab “aamiin.” Orang Jakarta menjawab “kabulkanlah.” Orang Inggris menyahut “may God bless us.” Orang Jawa Tengah berseru “lah mbok di ngasihi.” Orang Jawa Solo menggumam “mugi-mugi dipun sembandani.”
            Dan umpamanya dibikin masjid untuk tiap bahasa sendiri-sendiri, alangkah banyaknya masjid harus didirikan di negeri kita. Serta tak dapat di bayangkan betapa ributnya tiap kali azan dikumandangkan. Ada yang bilang “Allah Nan Gadang”. Ada yang “ Allah Nu Agung Pisan”. Ada pula yang “Allah Ingkang Ageng Sanget”. Wah kacau balau.
Oleh sebab itu Rasulullah sangat bijaksana ketika menentukan bagaimana azan memanggul umat untuk sholat harus di lafalkan. Mula-mula ada yang mengusulkan agar seruan berjamaah dilakukan agar menntugibarkan bendera isyarat. Sahabat lain, menganjurkan supaya dengan meniup terompet. Ada lagi yang punya saran untuk membunyikan lonceng atau genta. Semuanya tidak disetujui oleh Rasulullah. Beliau menyepakati lafal as-shalaat seperti diusulkan Umar bin Khattab. Dan lafal itulah yang untuk beberapa masa didengungkan oleh Bilal dar atas Kabah. Cuma beberapa waktu kemudian disempurnakan menjadi as-shalaatu jaami’ah oleh Bilal.
Namun, pada suatu malam seorang sahabat bernama Abudullah bin Zaid dalam tidurnya bermimpi. Ia melihat seorang lelaki berjubah serba hijau mondar-mandir di depannya sambil membawa genta. Abdullah menegurnya dan berkata ingin membeli genta itu.
“Untuk apa?” tanya lelaki berjubah serba hijau itu keheranan.
“Untuk menyerukan umat sholat berjamaah”, jawab Abdullaj bin Zaid mengemukakan keinginannya.
Lelaki itu tersenyum seraya menggeleng, “Tidak layak memanggil orang menyembah Tuhan Maha Besar dengan membunyikan genta. Dengarkan seruan yang lebih tepat.”
Lalu lelaki berjubah itu menerangkan lafal azan seperti yang kita kenal sekarang. Hikmahnya, Allahu Akbar adalah guna mengingatkan kepada manusia bahwa yag Besar hanya Allah. Manusia dan kehidupannya di dunia sungguh kecil. Yang maha besar hanyalah Allah dan di hadiratNya. Disusul dengan lafal syahadatain, mengandung makna bahwa manusia tidak cukup hanya bertuhan saja, melainkan harus mengikuti agama untuk mencapai ibadah yang benar. Dan karena Muhammad adalah rasul terakhir. Baru setelah itu diserukan untuk mengerjakan shalat dengan lafal hayyaalas-shalaat. Sebab sholat baru diterima bila mengikuti cara-cara yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Bila sudah sholat, berarti kemenangan pun mudah diperoleh lantaran sholat adalah permulaan dari kemenangan mengatasi godaan hawa nafsu. Dan perjuangan mengalhkan hawa nafsu adalah kemenangan di atas perjuangan manaklukan musuh mana pun. Setelah kemengan itu direbut, tidak ada yang patut dipekkikan kecuali menyerukan kembali kebesaran Allah, karena tiada day dnkekuatan melainkan dengan pertolonganNya. Allah yang mana yang harus kita agungkan? Tidak lain adalah Allah yang tiada tuhan kecuali dia.
Pada waktu rekaman mimpi itu diberitahukan kepada Rasulullah, beliau gembira menyetujuinya sebagai lafal azan semenjak saat itu. Oleh Bilal, tiap kali subuh ditambahkan kalimat as-shlaatu khairun minan-naum, shalat itu lebih utama daripada tidur, setelah kalimat hayya ‘alal-falah.
                                         
*kisah ini diambil dari buku “30 Kisah Teladan” karya K.H. Abdurrahman Arroisi