(Loading...)

Kenalan Dulu Yuk

assalamu’alaikum warohmatullahi wabarakaatuh.. perkenalkan kami ulul-albaab ^^ dibuatnya situs ini bertujuan untuk berbagi ilmu dan...

Kenapa Harus Berhijab ¿ (part 1)

Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.. Salam hangat dari kami untuk para pembaca, semoga kesehatan dan keselamatan selal...

Ilmuwan Optik Muslim Terbaik Sepanjang Sejarah (part I)

Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuhu, Ilmuwan terkenal di bidang Optik pertama adalah seorang Muslim, belum tah...

Remaja Juga Bisa Jadi Politisi

Remaja Juga Bisa Jadi Politisi Bismillaahirrahmaanirrahiim Assalaamu’alaikum sobat J Alhamdulillah, kita masih diberikan kesempat...

Kenapa Harus Berhijab ? (part II)

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarakaatuh Alhamdulillah nih, kami masih diberi kesempatan untuk be...

Sumbangan Palsu (Part 1)

SUMBANGAN PALSU

Minggu itu mpok Ade menyuruh seluruh isi keluarga kerja bakti. “Biar nanti pas kita bikin walimatussafar  Babe lo yang mau berangkat haji, umrah udah rapih!”.
Faris sebetulnya males beberes rumah. Kalau Minggu, dia suka ngajakin teman-temannya jalan-jalan atau menghadiri kegiatan yang sering digelar di masjid-masjid besar. Tapi, karena ini perintah ortunya, dia kudu rela.
“Okay, bu. Kira-kira apa dulu yang harus Faris bersihin?”
“Bagian dapur!”
“Masak?”
“Bukan, ngerapihin perabotan dapur, kompor dibersihin, tempat cuci piring digosek, kulkas dikuras,terus semua perabotan yang dekil kudu lo bikin kinclong!”
“Oke-oke,” kata Faris, “Eh, gimana kalo kita undang Omas?”
“Kenapa harus dia?” Mpok ade mendelik.
“Kan Omas bilang, nyuci banyak Cuma gopeeek!” tukas Faris. “Ntar kita suruh aja dia beberes, terus kita kasih upah gopek! Hehehe.”
“Enak aje! Tu kan Cuma iklan! Tapi, ngomong-ngomong soal nyuci ibu jadi inget tebakan nih. Ayo Ris,kamu tau ngga sabun apa yang bisa nyanyi?”
“Ih ibu ada-ada aje.mana ada sabun bisa nyanyi?”
“Ada….Rinso…Harahap!Hihihi..”
“Ih, ibu!” Faris jadi nyengir.
Tak lama kemudian Abuzar, adiknya Faris, muncul. Dia baru pulang bermain di rumah Chairul, temannya..
“Bu ada apaan nih? Pada mau pergi ya?” Tanyanya ingin tahu karena melihat orang-orang sedang sibuk.
“Enggak, kita mau kerja bakti, tapi kamu ngga usah ikutan. Kamu main aja di depan,” kata Mpok Ade. “Anak sekecil kamu belum wajib ikutan kerja bakti.”
“Eh, bu, kemarin ada orang yang habis niup balon langsung mati,” kata Abuzar tiba-tiba setelah mengambil botol minuman dari dalam kulkas.
“Ah masa sih? Apa balonnya meledak, terus yang niup punya penyakit jantung? tebak, Mpok Ade sedikit khawatir.
“Atau dia punya penyakit asma, abis niup napasnya bures!” jelas Faris.
“Engga, niup balonnya sambil nyebrang jalan tol sih!” jawab Abuzar sambil ngikik.
Mpok Ade dan Faris jadi tersenyum. Kena dikerjain.
“Iiih itumah mati kesamber bis! Ada-ada aje lu!”
Kemudian Abuzar mengambil mainan robot-robotan dan keluar rumah Chairul.
“Ngomongin soal balon, Faris jadi inget ama adiknya Sinyo, bu”
“Ah pasti lo mau ngajakin main tebakan lagi!”
“Enggak”
“Emang kenape tu orang?’
“Kalo dibeliin balon ngga mau yang warnanye ijo!”
“Lho kok bisa gitu? Ape dia punya warna paporit?”
“Enggak juga, pokoknye dia paling nggak mau dikasih balon yang warna ijo!”
“Sebabnya kenape?”
“Katanye balon warna ijo sering meletus!”
“Ah kate siape?”
“Kate lagu.. meletus balon ijo, dwar! Hatiku sangat kacau!”
“Hihihi, ade-ade aje.”
“Eh, iye bu, udah denger cerita orang makan semangka, terus nabrak becak, becaknya langsung ringsek?” sambung Faris lagi.
Mpok Ade melongo.
“Jangan ngarang-ngarang lagi Ris!”
“Suer , bu! Beritanya ada kok di Koran!”
“Wah, orang sakti kalo kitu!”
“Engga juga…”
“Jadi kenapa bisa begitu?”
“Yang makan semangka lagi naik kereta ekspres!” jawab Faris sambil nahan ketawa
“Uuuh kirain ….,”sergah mpok Ade merengut.
“Udah ah, jangan ngobrol aje, ntar kerjanye nggak beres-beres!”
Bang Udi baru dari warung Kong Sanep, tiba di rumah. “Wah, udah muali kerja baktinye? Eh, tugas bapak apa nih?”
“Bagian luar! Ngorek-ngorek got, ngerapihin taneman. Ama apa lagi ye? Yah pokoknya bagian dinas luar aje, gitu!” jelas Mpok Ade.
“Oke”
Bang Udi pun segera keluar. Membawa alat sekedarnya. Seperti sendok semen, sapu lidi, dan serokan sampah dan langsung bekerja sesuai instruksi.
Ketika Bang Udi sedang asik ngorek-ngorek got di depan rumah yang suka mampet itu, tiba-tiba ada yang dateng. Seorang pemuda sekitar delapan belas tahun, memakai kemeja tangan panjang, rapi, dan memakai topi item.
“Assalamu’alaikum .. permisi, pak, kami dari yayasan panti asuhan dan rumah jompo yang berada di luar kota, ingin minta sumbangan,” kata si pemuda tadi.
“Oooh, silahkan duduk dulu,” Abang Udi berhenti bekerja dan mempersilahkan tamunya duduk di kursi teras. “Tunggu sebentar ya.”
Bang Udi masuk rumah.
Di dalam Mpok Ade bertanya pada suaminya. “Siapa, Pak?”
“ Petugas sumbangan dari panti asuhan.”
Dari dapur, Mpok Ade berusaha melirik ke luar, melihat si pemuda berkemeja tangan panjang itu.
“Aduuh.., kenapa nggak bilang maaf aja!” sergah Mpok Ade kemudian.
“Lho emangnye kenape?” Tanya Bang Udi yang sudah menggenggam uang dua puluh ribuan. “kan sekarang udah bukan lebaran! Kenape minta maaf?”
“ Bukan maaf begitu, maksudnya, bilang aja lagi ngga punya duit. Soalanya aye ngerasa kurang sreg, takutnya Cuma…”
“Ah, kite nggak usah prasangka buruk, nyumbang-nyumbang aje, kalo dia emang nipu kan dia yang nanggung resikonye.”
“Tapi pak, ntar kebiasaann,” timpal Faris mendukung ibunya.
Sebetulnya bang Udi sendiri paling anti dengan tukang sumbangan, karena menurutnya nggak kreatif. Dan, bisa merendahkan martabat orang Islam yang kesannya jadi hobi minta-minta. Menurut Bang Udi pasti ada jalan lain selain minta sumbangan.
“Udahlah nggak ape-ape, anggap aje dia bener-bener petugas panti asuhan,” kata Bang Udi seraya pergi ke depan dan menemui pemuda itu.
“Ooh terima kasih pak, mudah-mudahan budi baik bapak dibalas oleh Yang Maha Kuasa,” kata si pemuda sambil basa-basi.
“Aamiin,” sambut Bang Udi.
Sementara, Mpok Ade dan Faris terus mengamati kepergian si pemuda dari dalam rumah.

Bersambung~


*Kisah ini diambil dari buku “Faris dan Haji Obet: Dia Harus Pergi” karangan Boim Lebon

PANGGILAN KEMENANGAN


PANGGILAN KEMENANGAN




 Andaikata sholat boleh menggunakan bahasa masing-masing, bukankah akan lebih mudah dikerjakan? Mengapa mesti dengan bahasa Arab? Apakah Allah hanya mengerti bahasa Timur Tengah itu? Demikian tanda tanya ketidakpuasan mengental di hati sejumlah masyarakat yang gandrum kembali kepada tradisi nenek moyang.
            Alkisah, ada seorang nenek dari Jawa Tengah bertetangga dengan nenek yang berasal dari Cianjur. Kedua duanya sama-sama totok tidak mengerti bahasa lain. Pernah mereka terlibat dalam ketegangan meruncing akibat salah paham. Ceritanya, karena baik hati,melihat nenek Jawa Tengah kehabisan minyak tanah, si nenek Cianjur tanpa diminta mengantarkan sekaleng ke rumah tetangganya itu.
            Dengan menggunakan bahasa Sunda nenek itu bertanya, “ini minyak tanah, ditaruh di mana?”
            Meskipun samar-samar nenek Jawa itu tahu maksudnya sebab ada kata di mana, jadi ia menjawab,  “Dituang saja” dalam bahasa Jawa.
            Tentu saja nenek Cianjur itu marah, lantaran dituang artinya dimakan, menurut bahasa Sunda. Nenek Jawa itu disangka menghina dan mempermainkan pertolongan orang lain. Untung akhirnya masalah itu dapat diselesaikan oleh pamong desa setempat.
            Itu kejadian diluar masjid. Tetapi, begitu mereka bersama-sama hendak shalat jamah di masjid, persoalan bahsa tidak menjadi penghalang lagi karena baik yang Sunda maupun ynag Jawa sholat menggunakan bahasa yang sama, bahasa Al-Qur’an.
            Bayangkan, apabila imam dan makmum-makmumnya memakai bahasa masing-masing, bukankah wakyu membaca “aamiin” saja suasan shalat bisa gaduh? Orang Arab menjawab “aamiin.” Orang Jakarta menjawab “kabulkanlah.” Orang Inggris menyahut “may God bless us.” Orang Jawa Tengah berseru “lah mbok di ngasihi.” Orang Jawa Solo menggumam “mugi-mugi dipun sembandani.”
            Dan umpamanya dibikin masjid untuk tiap bahasa sendiri-sendiri, alangkah banyaknya masjid harus didirikan di negeri kita. Serta tak dapat di bayangkan betapa ributnya tiap kali azan dikumandangkan. Ada yang bilang “Allah Nan Gadang”. Ada yang “ Allah Nu Agung Pisan”. Ada pula yang “Allah Ingkang Ageng Sanget”. Wah kacau balau.
Oleh sebab itu Rasulullah sangat bijaksana ketika menentukan bagaimana azan memanggul umat untuk sholat harus di lafalkan. Mula-mula ada yang mengusulkan agar seruan berjamaah dilakukan agar menntugibarkan bendera isyarat. Sahabat lain, menganjurkan supaya dengan meniup terompet. Ada lagi yang punya saran untuk membunyikan lonceng atau genta. Semuanya tidak disetujui oleh Rasulullah. Beliau menyepakati lafal as-shalaat seperti diusulkan Umar bin Khattab. Dan lafal itulah yang untuk beberapa masa didengungkan oleh Bilal dar atas Kabah. Cuma beberapa waktu kemudian disempurnakan menjadi as-shalaatu jaami’ah oleh Bilal.
Namun, pada suatu malam seorang sahabat bernama Abudullah bin Zaid dalam tidurnya bermimpi. Ia melihat seorang lelaki berjubah serba hijau mondar-mandir di depannya sambil membawa genta. Abdullah menegurnya dan berkata ingin membeli genta itu.
“Untuk apa?” tanya lelaki berjubah serba hijau itu keheranan.
“Untuk menyerukan umat sholat berjamaah”, jawab Abdullaj bin Zaid mengemukakan keinginannya.
Lelaki itu tersenyum seraya menggeleng, “Tidak layak memanggil orang menyembah Tuhan Maha Besar dengan membunyikan genta. Dengarkan seruan yang lebih tepat.”
Lalu lelaki berjubah itu menerangkan lafal azan seperti yang kita kenal sekarang. Hikmahnya, Allahu Akbar adalah guna mengingatkan kepada manusia bahwa yag Besar hanya Allah. Manusia dan kehidupannya di dunia sungguh kecil. Yang maha besar hanyalah Allah dan di hadiratNya. Disusul dengan lafal syahadatain, mengandung makna bahwa manusia tidak cukup hanya bertuhan saja, melainkan harus mengikuti agama untuk mencapai ibadah yang benar. Dan karena Muhammad adalah rasul terakhir. Baru setelah itu diserukan untuk mengerjakan shalat dengan lafal hayyaalas-shalaat. Sebab sholat baru diterima bila mengikuti cara-cara yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Bila sudah sholat, berarti kemenangan pun mudah diperoleh lantaran sholat adalah permulaan dari kemenangan mengatasi godaan hawa nafsu. Dan perjuangan mengalhkan hawa nafsu adalah kemenangan di atas perjuangan manaklukan musuh mana pun. Setelah kemengan itu direbut, tidak ada yang patut dipekkikan kecuali menyerukan kembali kebesaran Allah, karena tiada day dnkekuatan melainkan dengan pertolonganNya. Allah yang mana yang harus kita agungkan? Tidak lain adalah Allah yang tiada tuhan kecuali dia.
Pada waktu rekaman mimpi itu diberitahukan kepada Rasulullah, beliau gembira menyetujuinya sebagai lafal azan semenjak saat itu. Oleh Bilal, tiap kali subuh ditambahkan kalimat as-shlaatu khairun minan-naum, shalat itu lebih utama daripada tidur, setelah kalimat hayya ‘alal-falah.
                                         
*kisah ini diambil dari buku “30 Kisah Teladan” karya K.H. Abdurrahman Arroisi